Perang Lawan Cina di Taiwan Akan Korbankan 500 Pesawat Tempur Amerika

Ketika Tentara Pembebasan Rakyat Cina sibuk unjuk kekuatan dengan menggelar latihan militer hingga di atas perairan Taiwan, para ahli dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) telah menjalankan aneka simulasi perang pecah di sana.

War game melibatkan kekuatan Amerika yang datang membantu pertahanan negara pulau yang dianggap sebatas daerah otonom oleh Cina tersebut.

Bahkan saat Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi datang berkujung ke Taiwan pada 2 Agustus 2022 lalu, yang memicu provokasi terbaru Cina, CSIS sudah sampai di simulasi ke-17.

Badan think tank yang berbasis di Washington itu rencananya menjalankan seluruhnya 22 simulasi perang di Taiwan pada tahun ini bekerja sama dengan beragam pakar pertahanan, pensiunan perwira militer, dan bekas pejabat Pentagon.

Laporan final masih akan diterbitkan pada Desember nanti, tapi dari 18 macam war game yang sudah dijalankan memastikan Amerika akan mampu mencegah pendudukan Taiwan oleh Cina.

Tapi, setiap simulasinya juga menunjukkan Amerika akan berakhir membayar ongkos yang sangat mahal untuk korban armada kapal perang, jet tempur dan personel.

Negara adidaya itu bakal kehilangan sekitar 500 pesawat tempur, 20 kapal perang dan dua kapal induk di setiap simulasi yang dibuat.

Korban perang dalam jumlah yang sangat besar itu belum pernah terjadi lagi terhadap AS sejak Perang Dunia II yang lalu.

“Peluang Cina bisa sukses memang amat sangat rendah tapi korban di Amerika juga sangat besar…

Di banyak simulasi war game itu, AS akan kehilangan hampir seluruh armada global dari aviasi taktikalnya,” kata Matthew Cancian, yang bermitra dengan CSIS sebagai salah satu arsitek utama dari game perang itu.

Para pakar, berdasarkan 18 dari 22 simulasi yang sudah dijalankan itu, mencatat hasil perang bervariasi dari satu simulasi ke simulasi yang lain, bergantung kepada kondisi awalnya.

“Tapi, apa yang konstan dari seluruhnya adalah kehilangan yang sangat besar dari kedua belah pihak,” kata Bradley Martin, peneliti senior di RAND Corp., yang juga terlibat dalam simulasi perang itu.

Dalam simulasi atau war game yang dijalankan itu, Cina memutuskan menginvasi Taiwan dan kemudian Amerika Serikat datang.

Jepang, sekutu Amerika, tidak berpartisipasi aktif dalam konflik kecuali ada serangan langsung terhadap wilayahnya.

Catatan lainnya adalah pasukan Taiwan yang dikondisikan terkonsentrasi di ibu kota Taipei langsung lumpuh dalam 3-4 hari pertama perang.

Ini untuk asumsi serangan siber yang sangat mungkin dilancarkan Cina terhadap infrastruktur Taiwan di awal perang dideklarasikan, seperti yang dilakukan Rusia dalam invasinya ke Ukraina pada Februari lalu.

Setiap game war mensimulasikan pertempuran yang berlangsung sampai empat minggu.

Dan catatan skenario paling penting, senjata nuklir belum dijadikan faktor dalam simulasi-simulasi perang tersebut.

EURASIAN, BREAKING DEFENSE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *